Kamis, 28 September 2017

Dialog

Sayang, maaf dalam dialogku dengan diriku, kau kupanggil sayang. Kau tidak memaafkan, aku tidak berdosa. Hanya saja, kau pantas tahu, aku sayang padamu.

Rabu, 23 November 2016

Temanku si Jamban

Ku punya seorang teman
Namanya Jamban
Jalannya cepat otaknya lamban
Jadi beban sudah kebiasaan

Jamban hidup dalam khayalan
Khayalannya bersama seorang bajingan
Bernama Nababan
Nababan tidaklah tampan
Jamban juga kadang suka heran

Tapi Nababan punya teman kencan
Namanya Menyan
Nababan dan Menyan sering berduaan
Si Jamban tidak bisa menahan
Kesedihannya yang sampai langit kedelapan

Jamban bagaikan butiran bubuk teh sisri blackurrant
Ayo kirim masukanmu kawan
Untuk si Jamban yang kurapan
Oleh rasa yang tak terbalaskan

nhfhfvhdbvbvbhgvbsdfbvhsbvwkwkwkw
(Mutia M.)

Teriak-teriak Juga Seni

Teriak-teriak tidak dimarahi
Teriak-teriak malah disenangi
Teriak-teriak penuh distorsi
Teriak-teriak dikira gila

Tempo luar biasa penuh gairah
Lama-lama pengen muntah
Teriak-teriak jangan dianggap sampah
Teriak-teriak tak bikin jengah

Teriak-teriak dibilang berisik
Teriak-teriak juga musik
Lama-lama juga asik
ngik ngik ngik ngik

Jumat, 23 Januari 2015

Reading Camp yang Tertukar

Saya tau judul post ini mengingatkan kalian ke suatu acara tipi sinetron alay yang entah jaman kapan munculnya dan hilangnya. Tapi siapa peduli? Dimana-mana sinetron memang sudah ditakdirkan untuk membentuk suatu perputaran yang alay namun dinanti masyarakat kebanyakan, dan jangan anggap saya termasuk dalam masyarakat kebanyakan tersebut. Saya hanya menonton Jodha Akbar, camkan itu baik-baik. Kali ini saya akan menceritakan kejadian, di sebuah sudut gelap dimana lesbi dan homo berkumpul. Cerita ini dimulai ketika program Billingual yang mengikutsertakan kelas Reguler di dalamnya...

Pada suatu hari seekor gembel sedang termenung duduk di kursinya. Memikirkan kejadian tadi.
Semua teman gembel kecewa dengan muka murka, mengeluarkan taring yang ileran, matanya merah dengan tangan menggebrak-gebrak meja, ini sih siput gila. Tapi kalo gembel sih bodoh amat lah, dia terima-terima aja, pasrah kepada tuhan yang maha esa dan mematuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat walaupun emang dari kelas 8 gembel menanti-nantikan nih Reading Camp melebihi dieuh menanti-nantikan ada yang naksir sama dieuh ieuhh.... Dan juga gembel cuma bisa menghibur salah satu temannya, sebut saja Meng, yang juga ikut-ikutan menggila. Sementara salah satu temannya yang lain sebut saja Al yang kayaknya mencoba beraksi menghindari diri dari penglihatan guru piket yang seram dan menyelinap ke kantin demi sebungkus maccaroni. Yah, gembel dan Meng cuma bisa bergalau-galauan, bernyanyi-nyanyi sambil nempel-nempel di dinding, tapi gak gitu-gitu juga sih. Mungkin kalau diamati dari jauh oleh para pengamat-pengamat maho yang kesepian, gembel dan Meng sudah memenuhi kriteria dan layak sebagai lesbi yang profesional dan bertaraf internasional. Pertarungan sengit antara anak cowok menjadi latar kesedihan mereka, pelajaran BK yang gurunya gak bisa hadir diisi dengan teriakan "CUBIT TETE* DIAAA!!!" "CUBIT TETE* DIAAA!!!" penuh gelora, berlomba-lomba saling cubit, yang berasal dari anak cowok yang mengungkapkan kegalauan mereka dengan cara tersendiri niru-niru film bang Dika. Dan gembel juga males memikirkan nasip mereka kalo kedenger guru di kelas sebelah.

Ngomong-ngomong, sosis s* nice enak juga dimakan pakek emie.

Kamis, 15 Januari 2015

Anak Kecil Ga Boleh Pacaran


Kurang tau ya kemasukan setan jenis yang mana, tiba-tiba sebersit perasaan ingin mengulang masa SD muncul dengan kampretnya. Saya juga tau ini alay, tapi biarkanlah itu semua berlalu wahai sahabatku incik bos dan probe.

Ini adalah kisah seorang cewek, cewek itu masih bocah SD lah spesifiknya ya namanya juga cerita waktu SD. Hari itu adalah hari terkampret seumur hidupnya sebagai anak SD yang lucu minta cucu ganti bacu. Waktu itu lagi istirahat, kebetulan hujan jadi semua temen pada nongkrong di kelas lalu jadi lah kelas menjadi ribut. Tiba-tiba saja ada sosok yang ngelempar kertas bertuliskan ke bocah cewek "¿nʞɐ ɹɐɔɐd ıpɐɾ ʞɐƃ nɐɯ 'nʞɐ ɐɯɐs ɐʞns nɯɐʞ ʞoʞ nɐʇ nʞ∀" eh kebalik kertasnya, lalu bocah itu membalikkannya ke posisi yang benar terdapatlah tulisan "Akutaukokkamusukasamaaku,maugakjadipacaraku?". Ternyata yang melempar kertas tersebut adalah orang yang disukainya, entah kenapa tulisannya ada pelangi-pelangi sendiri saat dia membaca kertas tersebut. Si bocah cewek terdiam sesaat— HAH!! APAAN TUH!!!!! MINUM APAAN DIA SEMALEM?! Apakah dia terlalu banyak memakan sarimi isi dua!? Dia know yu sowel!? Dia girl i miss you!? Dia girl i love you!? Dia girl i heart you!? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bertaburan layaknya kacang goreng di kepalanya. Keinginan yang cuma pengen dipuji mama mama papa ayah ibu guru guru dan semua tante tante dan om om di luar sana pun goyah. Si bocah cewek sempat berpikir orang yang disukainya itu bermaksut mengahasut dan menganggu pikirannya sebelum ujian, agar berkurang pesaingnya. Yah walaupun peringkat bocah cewek dengan bocah cowok tersebut bagaikan kodok dan lumba-lumba sirkus. Bocah cowok peringkat ketiga dan bocah kecil yang malang itu—  you know-lah.

Sabtu, 10 Januari 2015

Ketika Difitnah

Awal tahun ini benar-benar mengkampretkan hati. Saya difintah brother sister father mother grand father grand mother grand prize! Saya difitnah menyukai teman saya sendiri yang kenyataannya adalah homo, mungkin ini rencana busuk seseorang untuk membersihkan nama baik lingkungannya yang tercemardari homo-homo.

Rabu, 24 Desember 2014

Tangisan Kue Lapis

   Malam itu saya pergi ke suatu tempat yasinan orang meninggal, yang kata emak masih keluarga deket. Disitu banyak papan-papan atau apalah yang tulisannya Turut berduka cita blablabla atas meninggalnya Siti Rohana. Rame sih, tapi orang-orang disitu malah sibuk foto-fotoan bareng, padahal itu kan malam penuh duka. Malahan ada yang nangis dibuat-buat.Ternyata emang bener, kiamat sudah dekat. Andaikan saya Siti Rohana, pasti mereka udah saya gentayangin duluan, walaupun saya gak tau Siti Rohana itu yang mana.
   Bukan cuma almarhuma yang bersedih hati, kue lapis pun menangis tercerai-berai lunglai sampai kita cerai! karena tak ada satupun no one yang ingin memakan bahkan menyentuh, menghirup aroma, dan mencumb—lupakan. Ada kakak-kakak menawarkan sepiring pempek, saya ambil piringnya, lalu saya cabik-cabik semua pempek itu dengan beringas dan penuh amarah yang menggebu-gebu seperti tebu di dalam subsiteng.
   Dan tibalah saatnya membaca yasin bersama-samaaa. Saya lagi gak pegang buku yasin, jadi saya cuma nontonin kodok dan cacing yang berjoget-joget gaje di rerumputan. Ehh ada kodok loncat ke kaki saya, refleks langsung saya mengeluarkan melempar-kodok-menggunakan-kaki-sejauh-1000-mil no jutsu.
   Wah! Ternyata kodok itu bisa ngomong, pasti dia kodok yang tersesat! "Hai qnalin q q0d0q, qi-ou-di-ou-qi sie alay dari kampung sebelahh" sembari mengedipkan sebelah mata dan memelet-meletkan lidahnya. "Tompelmu manis" ucap q0d0q kepada adek saya, lalu melesat pergi, takut ditendang lagi kali yah? "APAH!!!? AKU TIDAK PUNYA TOMPEL! DASAR BINATANG TIDAK BERPERIKEBINATANGAN!" teriak sang adek murka. Imajinasi ini pun berpacu dengan liarnya.
   Sesampainya di rumah, saya melihat sesuatu yang janggal sesuatu yang ganjil dan tidak biasa di dahi adek saya dan itu mengusik pikiran saya. ITU TOMPEL! Tompel woi tompel! Padahal seingat saya adek saya tidak menyimpan perasaan kepada tompel. Mungkin itulah yang dimaksud q0d0q tadi, benar-benar tompel ini adalah sebuah misteri tak termenetaskan.
  Ternyata setelah saya berpikir(pake otak) dan mengamati tak karuan, bisa disimpulkan we can conclude that it's a serangga atau insect in english. Mungkin dari tempat yasinan tadi, terus adek saya ambil tuh serangga "Ngisep nih,"
  "Ngisep pikiran dan akal sehat nih jangan-jangan. AAA!!! aku inonsemia, kamuu! kamu siapah!?"

TAMAT

krik.. krik..

*mengheningkan cipta